PRINSIP PRINSIP PENCEGAHAN CEDERA



PRINSIP-PRINSIP PENCEGAHAN CEDERA

1. Faktor Fasilitas dan Peralatan Olahraga
     Semua fasilitas olahraga mulai dari stadion sepak bola, lapangan tenis, bulu tangkis, basket bola voli, hingga tempat panjat tebing dapat digunakan oleh seluruh olahragawan. Dengan adanya fasilitas olah raga tersebut diharapkan agar olahragawan dapat memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas olahraga tersebut. Mungkin dalam pelaksanaannya kecelakaan bisa saja terjadi. Untuk itu perlu kita ketahui cara pencegahannya. Seperti contoh: setelah menggunakan treadmill segera cabut aliran listriknya atau Jika kita menggunakan dumbbell kita harus pastikan meletak kembali di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh anak kecil. 

2. Faktor Sarana Pelindung
      Sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai tujuan. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sarana prasarana adalah alat secara fisik untuk menyampaikan isi pembelajaran (Sagne dan Brigs dalam Latuheru, 1988:13). Dari berbagai definisi menurut para ahli dapat diartikan bahwa sarana prasarana adalah pendukung utama yang meliputi dari perlengkapan serta bangunan atau tempat sehingga memenuhi persyaratan untuk pelaksanaan kegiatan. Salah satu contoh sarana dari olahraga bela diri diantaranya pelindung kepala (head guard), pelindung tulang hasta (arm-guard), pelindung badan (hoogo/body protector), pelindung tulang kering (shins-guard), pelindung kemaluan (nangsimcha/ groinguard), Pelindung gigi dan lain sebagainnya. Semua peralatan tersebut sangat bermanfaat khususnya dalam memberikan rasa aman dan nyaman dalam latihan dan bertanding. Selain itu, juga dalam menimalisir kecelakaan atau masalah yang dapat merugikan diri atlet terhadap raga  dan jiwanya. 

3. Faktor Kebugaran Jasmani
     Kebugaran jasmani merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan yang cukup berat dan cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti.  Orang yang sehat belum  tentu  bugar,  namun orang bugar sudah tentu sehat. Kurangnya daya tahan kekuatan otot dan kelincahan merupakan penyebab utama timbulnya cedera. Dikarenakan program latihan kondisi fisik yang dilakukan tidak sempurna. Oleh karena itu, program latihan kebugaran jasmani perlu direncanakan secara sistematis. Tujuannya untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kemampuan ergosistem tubuh. Proses latihan kebugaran jasmani yang dilakukan secara cermat, kontinue dengan beban yang terus meningkat akan mudah meningkatkan kebugaran jasmani. Hal ini akan menyebabkan seseorang menjadi terampil, kuat, dan efisien dalam bergerak.

4. Faktor Kondisi Psikologi
      Cedera atau Luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi. Luka juga dapat merujuk pada luka batin atau perasaan (wikipedia). Umumnya kita mengetahui cedera diakibatkan oleh faktor fisik, sepertiketidak seimbangan otot, benturan dengan kecepatan tinggi, overtraining, dan kelelahan fisik. Namun oleh Rotela dan teman-teman telah di identifikasi faktor kepribadian, level stress dan beberapa sikap tertentu adalah penyebab terjadinya cidera: 
a. Faktor Kepribadian
Factor ini adalah yang pertama yang berhubungan cedera atlet. Para peneliti mengungkapkan atlet yang mempunyai konsep diri yang rendah mudah terjadi cedera dibandingkan yang mempunyai konsep diri tinggi. Itu bermakna rasa optimisme, percaya diri, ketabahan dan kecemasan berperan dalam cedera atlet.
b. Tingkatan Stress
Secara keseluruhan bukti-bukti menunjkan bahwa atlet dengan pengalaman tekanan hidup yang lebih tinggi lebih sering cedera dibandingkan atlet dengan tekanan hidup yang lebih rendah. Penelitian juga telah mengidentifikasi stress muncul pada atlet ketika cidera dan ketika di rehabilitasi saat cedera. Contohnya kurannya perhatian serta terisolasi. Teknik management pelatihan stress tidak hanya menolong atlet dan instrutur lebih efektif secara penampilan tetapi juga mungkin menghindari resiko mereka cedera dan sakit.
Dari penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwa cedera tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik, namun faktor psikologis juga sangat berpengaruh. Peranan ilmu Psikologi dalam penanganan cedera dalam olahraga seperti menganalisa reaksi emosional atlet ketika mengalami cedera, melakukan pemulihan secara psikologis, membangun hubungan interpersonal yang baik dengan atlet yang cedera guna memberikan terapi yang tepat agar cedera yang dialami atlet tidak menjadi beban baginya, mendidik dan memberikan pengetahuan atlet yang cidera tentang proses dan pemulihan cidera, serta memaksimalkan dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan orang-orang terdekat yang dapat memberikan support kepada atlet yang mengalami cedera.

5. Faktor Warming-Up
       Berolahraga pada umumnya melibatkan sekelompok otot maupun beberapa kelompok otot yang pada gilirannya akan meninbulkan reaksi dari organ-organ tubuh untuk menyesuaikan diri. Reaksi penyesuaian diri dapat berbentuk sebuah jawaban adaptasi dari organ-organ tubuh. Jawaban adaptasi merupakan perubahan struktur atau fungsi fisiologis yang bersifat relatif lebih menetap. Persiapan sebelum melakukan kegiatan olahraga atau aktivitas fisik memerlukan persiapan baik jasmani maupun rohani, hal ini memungkinkan tidak akan terjadi cedera pada saat berolahraga karena adanya kesiapan sebelumnya. Persiapan-persiapan tersebut dapat berbentuk penguluran {stretching) dan pemanasan {warming-up). Dengan melakukan pemanasan diharapkan akan memberikan penyesuaian pada kondisi tubuh dari keadaan istirahat (rileks) sebelum melakukan aktivitas olahraga. Selain itu, dengan pemanasan dapat memperbaiki penampilan serta mengurangi kemungkinan terjadinya cidera. 

6. Faktor Cooling down
        Saat berolahraga, tubuh kita akan merespon dengan meningkatkan frekuensi denyut jantung dan tekanan darah. Hal ini terjadi untuk meningkatkan penghantaran oksigen dan bahan bakar metabolisme ke otot-otot yang bekerja dan seluruh tubuh. Saat kita selesai berolahraga, maka frekuensi denyut jantung dan tekanan darah ini secara alami akan kembali turun. Namun penurunan ini tidak boleh terjadi secara terlalu cepat karena akan memberi dampak yang buruk bagi kesehatan jantung, atau bahkan dapat membahayakan sesorang yang memang sebelumnya mengalami masalah jantung. Di sinilah pendinginan memegang peranannya. Dengan pendinginan, kita akan menurunkan frekuensi denyut jantung dan tekanan darah secara lebih bertahap. Hal ini membantu kita mendapatkan kembali kondisi tubuh yang maksimal setalah berolahraga.

Subscribe to receive free email updates: